WRI Merilis Data Terbaru Terkait Kebakaran Hutan Di Indonesia

first_imgDari peta-peta ini, WRI telah mentabulasikan jumlah peringatan titik api berdasarkan tanggal, serta mengidentifikasi jumlah peringatan yang terjadi di dalam dan di luar area konsesi. Artikel ini telah disunting untuk mengklarifikasi penggunaan data peringatan titik api NASA. Klik disini untuk mengetahui lebih lanjut tentang system ini. Berikut adalah tabel terbaru yang menunjukkan konsesi yang menjadi lokasi peringatan titik api berdasarkan data konsesi 2013.Observasi BaruData baru menggarisbawahi dua pola kunci:Jumlah peringatan titik api di Indonesia masih tetap tinggi, menunjukkan bahwa kebakaran di lapangan masih menjadi isu yang serius. Sebagaimana ditunjukkan data NASA, jumlah peringatan titik api paling tinggi terjadi pada 19 Juni dimana memang terdapat peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan hari-hari lain. Hari-hari selanjutnya masih menunjukkan angka peringatan titik api yang relatif lebih tinggi, dengan 21 dan 23 Juni di posisi kedua dan ketiga tertinggi.Persentase peringatan titik api yang terjadi di wilayah konsesi perusahaan meningkat jika dibandingkan dengan beberapa hari lalu. Untuk periode 12-23 Juni, semakin meningginya jumlah titik api diiringi dengan meningkatnya proporsi peringatan titik api yang terdapat dalam wilayah konsesi.Meskipun data baru ini telah membantu ditemukannya pola di atas, data ini masih belum cukup lengkap. Peta konsesi untuk 2013 masih belum dapat diakses publik dan tidak bisa diakses online dengan gratis. Padahal data ini maupun data lain yang serupa, seperti kepemilikan perusahaan, dapat memperkuat kemampuan kelompok-kelompok yang bekerja dalam isu ini, termasuk pemerintah, untuk membuat analisis.Jika pemerintah Indonesia, perusahaan, dan komunitas dapat bekerja sama untuk memastikan ketersediaan data tersebut secara publik, langkah ini menjadi usaha penting yang dapat mencegah krisis kebakaran hutan di masa mendatang, sekaligus memastikan masa depan yang lebih lestari bagi hutan dan masyarakat Indonesia.center_img Cecelia Song, Andika Putraditama, Andrew Leach, Ariana Alisjahbana, Lisa Johnston, James Anderson dan ahli lainnya di WRI juga berkontribusi dalam artikel ini.Read this post in English here.Hari Jumat yang lalu, World Resources Institute (WRI) mempublikasikan data detil terkait lokasi peringatan titik api di Sumatera yang telah menyebabkan kabut asap yang sangat mengganggu dan berpotensi beracun di wilayah Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Pemerintah ketiga negara, perusahaan-perusahaan, maupun media semua berlomba untuk mencari data untuk memahami penyebab dan lokasi sebaran titik api, serta memutuskan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.Selama beberapa hari terakhir ini, WRI telah melacak lokasi sebaran kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera, sebuah pulau di bagian barat Indonesia. Dalam perkembangan terbaru ini, WRI menganalisis tren historis kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera. Baca analisa sebelumnya.Analisis terbaru dari WRI menunjukkan adanya perkembangan sebaran peringatan titik api di Sumatera dari waktu ke waktu serta kaitannya dengan konsesi perusahaan. Dua data penting dalam analisis ini antara lain:1. Peringatan titik api baru dari Data Api Aktif NASA, yang menunjukkan sebaran peringatan titik api terbaru selama periode 20-23 Juni (sebelumnya hanya pada 12-20 Juni. Data NASA hanya mengindikasikan kemungkinan lokasi ternjadinya kebarakan. Untuk mengetahui apakah ada api atau tidak, data tersebut harus diverifikasi di lapangan. Lihat disini untuk informasi lebih lanjut tentang data NASA.)Peta konsesi dan penggunaan lahan terbaru dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, tertanggal 2013.Versi terbaru dari Peta Interaktif kami menenunjukkan peta tumpang tindih dari kedua data terbaru tersebut.Catatan: Visualisasi di bawah ini bersumber dari data yang tersedia bagi publik dari NASA dan Pemerintah Indonesia. Para ahli di WRI telah melakukan usaha terbaik mereka untuk melakukan verifikasi terhadap informasi ini, namun tidak dapat mengkonfirmasi akurasi dari informasi awal tersebut.last_img read more

Details

Minister Says Government Making Strides to Deal with Health Challenges

first_img Minister of Health, Dr. the Hon. Christopher Tufton, says the Government is making strides in advancing its infrastructural readiness to cope with the challenges of the health profile of the population. Story Highlights “I think we are on the right track, and, indeed, from a government policy perspective, over the past year or so we have articulated and seen the need for expanded infrastructure. We are doing it in a very holistic way, so it is not an isolated institution,” he said. Minister of Health, Dr. the Hon. Christopher Tufton, says the Government is making strides in advancing its infrastructural readiness to cope with the challenges of the health profile of the population.Speaking at the ground-breaking ceremony for the construction of High Dependency Units (HDUs) at the St. Ann’s Bay Hospital on May 17, Dr. Tufton said there are plans to ensure that over the next three to five years, the necessary resources are in place to build out and expand the critical-care institutions across the island.Dr. Tufton says the breaking of ground for the HDUs represents a great start for the other critical-care institutions.“I think we are on the right track, and, indeed, from a government policy perspective, over the past year or so we have articulated and seen the need for expanded infrastructure. We are doing it in a very holistic way, so it is not an isolated institution,” he said.“It’s an attempt at looking at the full spectrum of hospital services and infrastructure, and developing a range of specialisation that will see us as a country being able to respond more readily and efficiently to the needs of our population,” the Minister added.The facility, being funded by the European Union (EU) at a cost of $230 million under the Programme for the Reduction of Maternal and Child Mortality (PROMAC), will include a neonatal HDU, which will include eight beds and two neonatal isolation suites and a maternal HDU, which will include five beds, and maternal isolation suites.They will be equipped with highly specialised radiographic technology, digital computerised radiographic imaging systems, critical-care ventilators and specialised patient-monitoring equipment.Dr. Tufton said the infrastructure will only become important and effective when people support and utilise the facilities in the right way. In this regard, he highlighted that there is still work to be done in sensitising Jamaicans about the importance of managing their own behaviours in the interest of their own personal health and their unborn child.“Given that we have a solution with the help of the EU and others, in terms of the required infrastructure, we have to now get to a point where we develop a series of policies and programmes to change behaviour,” he said.The Minister lauded the EU for their efforts and resources in assisting to develop the Jamaican health sector.“We value the partnership, we see tremendous opportunities in improving our infrastructure and it’s always a work in progress, so we will now have to ensure that with your support, we provide the leadership and guidance to expand and extend the benefits to the people that we serve,” he said.PROMAC is aimed at reducing child mortality and improving maternal health. Under the project, a total of nine HDUs will be established at the Victoria Jubilee, Cornwall Regional, Spanish Town and St. Ann’s Bay hospitals and the Bustamante Hospital for Children. Speaking at the ground-breaking ceremony for the construction of High Dependency Units (HDUs) at the St. Ann’s Bay Hospital on May 17, Dr. Tufton said there are plans to ensure that over the next three to five years, the necessary resources are in place to build out and expand the critical-care institutions across the island.last_img read more

Details